Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kongres AS Akui Genosida Armenia, Turki Langsung Murka

Rabu, 30 Oktober 2019 | Rabu, Oktober 30, 2019 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-12T21:26:13Z
Birokrasi, Kongres Amerika Serikat melalui voting pada Selasa (29/10) mengakui terjadinya pembantaian Armenia oleh Kekhalifahan Ottoman pada Perang Dunia I. Voting ini memicu kemarahan Turki yang langsung memanggil Duta Besar AS.
Diberitakan Reuters, Kementerian Luar Negeri Turki memanggil Duta Besar AS untuk Ankara David Satterfield untuk meminta penjelasan. Menurut Turki, resolusi yang ditelurkan Kongres AS "ahistoris dan tanpa dasar hukum".
Pengakuan pembantaian Armenia didukung oleh 405 anggota Senat dan hanya 11 yang menolak. Dalam voting tersebut, Senat menyatakan AS membenarkan adanya genosida Armenia. Ini adalah kali pertama AS mengeluarkan pernyataan ini.
Peristiwa genosida Armenia terhadap pada 1915 hingga 1916 di tengah Perang Dunia I. Ketika itu diperkirakan sekitar 1,5 juta warga Armenia tewas setelah direlokasi oleh Kekhalifahan Ottoman dari Anatolia menuju gurun Suriah. Mereka tewas dibunuh, kelaparan, atau sakit.
Angka kematian ini dipersengketakan oleh Turki yang mengatakan jumlahnya 300 ribu orang. Pemerintah Turki juga berulang kali mengatakan bahwa mereka adalah kelompok kriminal Armenia yang membunuhi umat Islam, dan relokasi adalah hukuman yang tepat di masanya.
Pemerintah Ankara mengatakan resolusi Kongres AS untuk genosida Armenia hanya bentuk hukuman atas serangan Turki ke utara Suriah. Turki sebelumnya berulangkali menjelaskan, serangan tersebut untuk mengusir pasukan Kurdi yang mereka anggap teroris.
Tudingan Turki ini benar adanya. Sesaat setelah mengeluarkan resolusi genosida Armenia, Kongres AS dari Partai Republik dan Partai Demokrat sepakat mendukung seruan agar Presiden Donald Trump menjatuhkan sanksi terhadap Turki atas invasi ke Suriah.
Sanksi tersebut mengincar para pejabat senior di militer dan pemerintahan Turki. Turki protes, mengatakan bahwa langkah AS ini "tidak sesuai dengan semangat aliansi NATO"
×
Berita Terbaru Update