Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Banjir dan Cuaca Ekstrem: Ancaman Hidrometeorologis yang Menghantui Jawa Barat

Selasa, 03 Desember 2024 | Selasa, Desember 03, 2024 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-12T21:26:13Z


Sejak awal tahun 2024, Jawa Barat telah dilanda bencana banjir yang meluas, mempengaruhi 25 kota dan kabupaten di provinsi ini. Hujan dengan intensitas tinggi telah memicu kerusakan besar, baik pada infrastruktur publik maupun kehidupan masyarakat. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat, Ika Mardiah, melaporkan bahwa sebanyak 94 kejadian banjir tercatat antara Januari hingga Mei 2024, dengan Kabupaten Bandung, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Sukabumi menjadi daerah yang paling terdampak.

Banjir ini tidak hanya merusak rumah dan fasilitas umum, tetapi juga menyebabkan korban jiwa. “Kami mencatat 137.153 jiwa terdampak, dengan 4 orang meninggal dunia,” ungkap Ika. Kerusakan parah juga terjadi pada rumah, dengan lebih dari 70 rumah mengalami kerusakan ringan hingga berat.

Namun, banjir bukanlah satu-satunya ancaman yang mengintai. Cuaca ekstrem juga turut memberikan dampak yang menghancurkan. Sejak Januari hingga Mei 2024, tercatat 202 kejadian cuaca ekstrem yang tersebar di 23 kabupaten/kota, dengan Kabupaten Bogor menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak. Cuaca ekstrem ini menyebabkan lebih dari 1.900 rumah rusak dan 6.015 jiwa terdampak. Tidak hanya rumah yang rusak, namun juga fasilitas pendidikan, sarana umum, dan infrastruktur lainnya.

Penyebab dari bencana ini beragam. Curah hujan yang tinggi dan infrastruktur yang tidak memadai menjadi faktor alam dan manusia yang memperburuk situasi. “Pembangunan perkotaan yang tidak terencana dan saluran drainase yang buruk menjadi salah satu pemicu utama banjir,” jelas Ika. Kepala BMKG Jabar, Rachmat Prasetya, juga mengingatkan bahwa fenomena cuaca ekstrem seperti El Nino dan La Nina turut memengaruhi pola cuaca di wilayah ini.

Dalam menghadapi bencana hidrometeorologis, pengelolaan air limbah menjadi isu krusial. Diana Kusumastuti dari Kementerian PUPR menekankan pentingnya pengelolaan air limbah yang baik agar kualitas air tetap terjaga, mengingat sebagian air sungai digunakan sebagai bahan baku air minum.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. “Hidrometeorologis merupakan ancaman bencana terbesar di Jawa Barat. Banjir, tanah longsor, dan kekeringan bisa terjadi kapan saja,” ujar Edwin Zulkarnain, Analis Kebencanaan Muda BPBD Jabar.

Dengan cuaca yang semakin tidak menentu, mitigasi bencana dan kesadaran masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi dampak bencana di masa depan. Waktu untuk bertindak kini lebih penting dari sebelumnya, karena bencana hidrometeorologis di Jawa Barat semakin tak terbendung.

×
Berita Terbaru Update