Tasikmalaya — Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, SMP Asysyaakiriin mulai melakukan transformasi pendidikan dengan menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada penguatan karakter, penguasaan teknologi, dan keterampilan abad ke-21.
Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Ipan Zulfikri, S.Pd., M.P., sekolah mengusung visi mencetak generasi unggul yang berlandaskan ilmu, iman, dan teknologi. Transformasi tersebut diwujudkan melalui penerapan Project-Based Learning (PjBL), sebuah pendekatan yang mendorong siswa belajar melalui proyek nyata, bekerja sama, berpikir kritis, serta menghasilkan karya yang bermanfaat.
"Kami ingin membangun budaya belajar yang tidak hanya membuat siswa memahami teori, tetapi juga mampu memecahkan masalah, berinovasi, dan menciptakan solusi. Pendidikan harus mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keimanan dan karakter," ujar Ipan Zulfikri.
Sebagai bagian dari arah baru tersebut, SMP Asysyaakiriin akan membuka ekstrakurikuler Digital Creative dan Robotik. Program ini dirancang sebagai ruang bagi siswa untuk mengenal teknologi sejak dini, mulai dari logika pemrograman, desain digital, hingga perakitan dan pengoperasian robot sederhana.
Menurut Ipan, robotik bukan sekadar belajar merakit robot, tetapi menjadi media pembelajaran yang mampu mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, seperti matematika, sains, teknologi, teknik, bahkan kreativitas dan kerja sama tim.
"Kami ingin siswa memahami bahwa robot bukan hanya untuk diperlombakan. Robot memiliki manfaat yang sangat luas, mulai dari membantu proses pembelajaran di sekolah, mendukung inovasi di bidang pertanian, meningkatkan efisiensi industri, hingga menjadi sarana untuk meraih prestasi melalui berbagai kompetisi robotik. Anak-anak desa pun harus memiliki kesempatan yang sama untuk mengenal dan menguasai teknologi tersebut," jelasnya.
Untuk mewujudkan program tersebut, SMP Asysyaakiriin tengah menjajaki kerja sama dengan Persatuan Robotik Seluruh Indonesia (PRSI). Kolaborasi ini diharapkan dapat menghadirkan pembinaan, pelatihan, pendampingan, serta membuka akses bagi siswa untuk mengikuti berbagai kegiatan dan kompetisi robotik.
Selain itu, sekolah juga berencana menjalin kemitraan dengan DCI Tasikmalaya, sebuah kampus yang bergerak di bidang teknologi. Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperkuat pengembangan pembelajaran digital, meningkatkan kompetensi guru, serta memberikan pengalaman belajar yang lebih luas bagi peserta didik.
Meski menghadirkan inovasi baru, SMP Asysyaakiriin tetap mempertahankan berbagai ekstrakurikuler yang telah menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter siswa, seperti Pramuka, PMR, kesenian, dan olahraga. Menurut pihak sekolah, seluruh kegiatan tersebut akan saling melengkapi untuk membentuk peserta didik yang cerdas, berakhlak, sehat, kreatif, dan siap menghadapi masa depan.
Bagi Ipan, transformasi ini bukan sekadar menghadirkan teknologi ke dalam sekolah, tetapi juga mengubah cara berpikir bahwa sekolah di pedesaan mampu bersaing dengan sekolah-sekolah unggulan.
"Kami ingin menghapus anggapan bahwa anak desa selalu tertinggal. Mereka memiliki kecerdasan, kreativitas, dan cita-cita yang sama dengan anak-anak di kota. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan, pendampingan, dan keberanian untuk mencoba. SMP Asysyaakiriin ingin menjadi bukti bahwa sekolah di desa juga mampu melahirkan generasi yang berdaya saing nasional, bahkan internasional."
Transformasi ini menjadi langkah awal SMP Asysyaakiriin dalam membangun ekosistem pendidikan yang memadukan iman sebagai fondasi moral, ilmu sebagai bekal kehidupan, dan teknologi sebagai alat untuk menciptakan masa depan. Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, sekolah berharap dapat menjadi salah satu pusat lahirnya generasi muda yang siap menghadapi era digital tanpa kehilangan jati diri sebagai insan yang berkarakter.