Korea Selatan menghadapi ancaman serius terhadap keberlangsungan negaranya akibat krisis populasi yang semakin memburuk. Tingkat kelahiran yang terus menurun hingga rekor terendah memicu kekhawatiran bahwa negara ini bisa menjadi yang pertama "hilang" dari muka Bumi pada akhir abad ini.
Angka Kelahiran Terendah di Dunia
Pada 2023, tingkat kelahiran Korea Selatan hanya mencapai 0,72 anak per wanita, angka terendah di dunia, dan diperkirakan akan turun lagi menjadi 0,6 anak per wanita pada 2024. Jika tren ini berlanjut, populasi Korea Selatan yang saat ini berjumlah 51 juta jiwa diproyeksikan menyusut hingga tinggal setengahnya pada 2100.
Menurut laporan The Economic Times, populasi Korea Selatan bahkan bisa berkurang hingga sepertiga pada akhir abad ini, menjadikannya negara pertama yang menghadapi risiko "kepunahan nasional."
Penyebab Krisis Demografi
Beberapa faktor utama penyebab krisis populasi di Korea Selatan antara lain:
- Tingginya Biaya Hidup: Biaya pendidikan dan kebutuhan anak yang mahal membuat banyak pasangan enggan memiliki anak.
- Frustrasi Gender: Kesenjangan gender yang masih tinggi, terutama di daerah perkotaan, membuat perempuan lebih memilih fokus pada karier daripada menjadi orang tua.
- Sentimen Anti-Feminis: Kebijakan Presiden Yoon Suk-yeol yang menolak kuota gender dan menyebut feminisme sebagai penyebab memburuknya hubungan antargender semakin memicu ketegangan sosial.
Beban Psikologis dan Fisik pada Perempuan
Survei Dewan Nasional Perempuan Korea pada 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 7 dari 10 penduduk Seoul menganggap melahirkan sebagai beban berat. Sebanyak 68,4 persen responden menyatakan bahwa melahirkan dan mendidik anak adalah aktivitas yang melelahkan dan mengganggu karier.
Hanya 8,3 persen responden yang merasa memiliki anak adalah hal membahagiakan, menunjukkan rendahnya keinginan untuk berkeluarga di kalangan generasi muda Korea Selatan.
Masa Depan Korea Selatan
Jika situasi ini tidak segera diatasi, ancaman terhadap keberlangsungan Korea Selatan semakin nyata. Pakar demografi menilai bahwa pemerintah harus segera mengambil langkah radikal untuk membalikkan tren ini, termasuk memperbaiki kesetaraan gender, meningkatkan dukungan finansial bagi keluarga, serta menciptakan lingkungan yang mendukung perempuan untuk berkarier sekaligus membangun keluarga.
Krisis populasi ini menjadi peringatan bahwa tanpa intervensi nyata, Korea Selatan mungkin menghadapi skenario terburuk: lenyapnya sebuah bangsa dari peta dunia.
