Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

NATO Diskusikan Gencatan Senjata Rusia-Ukraina di Tengah Perang yang Terus Berlanjut

Sabtu, 07 Desember 2024 | Sabtu, Desember 07, 2024 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-12T21:26:13Z


Negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mulai mendiskusikan kemungkinan langkah untuk mendorong gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina. Diskusi ini berlangsung pada Rabu (4/12/2024), di tengah dukungan aliansi tersebut untuk Kyiv, sementara pasukan Rusia terus melanjutkan serangan mereka.

Menurut laporan Bloomberg yang dikutip Russia Today (RT), NATO mulai bergeser dari fokus pada upaya kemenangan militer Ukraina menjadi dukungan untuk mencapai posisi terbaik dalam menegosiasikan gencatan senjata. Namun, laporan itu mencatat bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin belum menunjukkan niat untuk membahas gencatan senjata.

“Dengan Presiden terpilih AS Donald Trump yang akan menjabat dalam kurang dari dua bulan, sekutu NATO Kyiv berusaha memperkuat posisi mereka di tengah menurunnya moral,” tulis Bloomberg.

Seorang sumber anonim menyebut bahwa rencana ini masih dalam tahap awal dan belum selesai. NATO juga dilaporkan mempertimbangkan opsi-opsi lain untuk mengakhiri konflik, termasuk menciptakan zona demiliterisasi yang akan diawasi oleh pasukan Eropa. "Diskusi-diskusi tersebut muncul di tengah pengakuan bahwa situasi di Ukraina tidak berkelanjutan dan negosiasi harus segera dimulai," tambah laporan tersebut.

Sementara itu, Rusia terus meningkatkan ofensifnya di wilayah Donbass dengan kecepatan yang belum terlihat sejak 2022, serta merebut kembali wilayah dari pasukan Ukraina di Wilayah Kursk, Rusia.

Sikap Jerman Terhadap Gencatan Senjata

Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock, menyatakan bahwa Berlin terbuka untuk mendukung pengiriman pasukan penjaga perdamaian ke Ukraina jika prospek gencatan senjata menjadi nyata. "Pihak Jerman akan mendukung segala hal yang mendukung perdamaian di masa mendatang," ujar Baerbock.

Jerman, sebagai anggota NATO dengan anggaran militer terbesar kedua, telah memberikan dukungan signifikan kepada Kyiv dalam perang melawan Rusia, dengan belanja militernya mencapai USD 97,7 miliar pada 2024. Namun, pernyataan Baerbock memicu spekulasi mengenai kemungkinan pengerahan pasukan Jerman ke Ukraina.

Menanggapi hal ini, Kanselir Jerman Olaf Scholz memperingatkan agar tidak menarik kesimpulan dari pernyataan tersebut. Dalam pidatonya di parlemen Jerman, Scholz menegaskan bahwa pengiriman pasukan Jerman ke Ukraina tidak mungkin terjadi sebelum ada gencatan senjata yang permanen.

"Kami sepakat dengan menteri pertahanan dan menteri luar negeri bahwa kami harus melakukan segalanya untuk memastikan perang ini tidak berubah menjadi perang antara Rusia dan NATO," ujar Scholz.

Dengan diskusi yang masih berkembang, NATO terus mencari jalan terbaik untuk mengakhiri konflik Rusia-Ukraina yang telah berlangsung selama hampir dua tahun. Namun, tantangan geopolitik dan militernya tetap besar, dengan banyak pihak menggarisbawahi pentingnya diplomasi yang hati-hati.

×
Berita Terbaru Update