Pernyataan Menteri Agama Republik Indonesia yang menyebut, “jadi guru itu bayarannya pahala, kalau mau uang ya berdagang, bukan jadi guru” menuai sorotan dan kritik dari berbagai kalangan, khususnya para tenaga pendidik.
Ucapan tersebut dinilai tidak pantas untuk disampaikan oleh seorang pejabat publik, terlebih oleh menteri yang seharusnya memberikan dukungan moral dan penghargaan terhadap profesi guru. Banyak pihak menilai pernyataan itu berpotensi merendahkan peran guru yang selama ini menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sejumlah organisasi pendidikan dan para guru mengungkapkan kekecewaan mereka. Menurut mereka, meskipun nilai pengabdian dalam profesi guru sangat tinggi, kesejahteraan tetap menjadi aspek penting yang tidak bisa diabaikan.
nya “Guru bukan hanya bekerja untuk pahala, tetapi juga memiliki kebutuhan hidup yang harus dipenuhi secara layak. Pernyataan seperti ini sangat tidak sensitif terhadap kondisi nyata para pendidik,” ujar salah satu perwakilan komunitas guru.
Di media sosial, reaksi publik pun bermunculan. Banyak warganet menilai bahwa pernyataan tersebut tidak mencerminkan empati terhadap perjuangan guru, terutama di daerah yang masih menghadapi keterbatasan fasilitas dan penghasilan.
Desakan agar Menteri Agama memberikan klarifikasi dan permintaan maaf pun terus menguat. Masyarakat berharap ke depan para pejabat negara lebih berhati-hati dalamY menyampaikan pernyataan, khususnya yang berkaitan dengan profesi vital seperti guru.
Profesi guru dinilai sebagai pilar utama pembangunan bangsa, sehingga sudah sepatutnya mendapatkan penghargaan yang layak, baik secara moral maupun material.